Teknik Pembelajaran Karya Sastra

Diposting pada

Berdasarkan uraian tentang sastra dan apresiasi sastra di atas, dapat dijelaskan bahwa pembelajaran apresiasi sastra adalah suatu proses interaksi antara guru dan murid tentang sastra apapun bentuknya, apakah itu puisi, prosa fiksi/cerita rekaan, dan drama.

Misalnya, dalam pembelajaran apresiasi puisi. Hendaknya siswa dikenalkan dengan berbagai macam puisi baik puisi lama ataupun puisi kontemporer.

Dalam pemilihan materi puisi, guru hendaknya memilih bahan berdasarkan tingkat kemampuan siswanya. Menurut Rahmanto, pembelajaran apresiasi puisi dapat dilakukan dengan beberapa teknik sebagai berikut.

Pelacakan Pendahuluan

Guru perlu mempelajari puisi yang akan diajarkannya di dalam kelas. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh pemahaman awal tentang puisi yang akan disajikan sebagi bahan.

Penentuan sikap praktis

Untuk mempermudah siswa memahami puisi, guru harus memilih informasi apa yang seharusnya diberikan kepada siswa. Guru juga hendaknya memilih puisi yang tidak terlalu panjang agar dapat dibahas dalam sekali pertemuan.

Introduksi

Introduksi atau pengantar sangatlah penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Pemilihan introduksi yang tepat dapat dilakukan dengan melihat situasi siswa dan karakteristik puisi yang akan diajarkan.

Penyajian

Agar puisi dapat memberikan kesan dan pesan bagi siswa, maka dibutuhkan penyajian yang tepat. Misalnya, dengan membacakan puisi dengan irama dan penghayatan yang tepat. Dengan demikian, siswa akan tersentuh dan tertarik untuk menelisik puisi lebih dalam lagi.

Diskusi

Untuk mencermati seberapa dalam apresiasi siswa terhadap puisi maka dapat diadakan diskusi. Siswa dapat membicarakan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari puisi.

Pengukuhan

Pengukuhan dapat dilakukan dengan cara memberikan tugas-tugas di luar kelas yang merupakan kelanjutan dari pembelajaran di dalam kelas. Contohnya, dengan menugaskan siswa untuk menulis puisi sesuai dengan pengalaman masing-masing.

Keenam teknik pembelajaran apresiasi puisi di atas dalam pelaksanaannya dapat diterapkan pula pada pembelajaran apresiasi sastra yang lain, seperti cerpen, novel, dan drama.

Teknik pembelajaran apresiasi seperti contoh di atas dirancang agar terjadi proses yang memungkinkan terjadinya pengenalan, pemahaman, penghayatan, serta penikmatan terhadap karya sastra hingga akhirnya siswa mampu menerapkan temuannya di dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, pembelajar apresiasi sastra akan memperoleh manfaat dari karya sastra yang diapresiasinya.

Rahmanto (1988:16-25) menyatakan bahwa “pembelajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya melihat empat manfaat”.

Manfaat Pembelajaran Sastra

Adapun keempat manfaat tersebut adalah sebagai berikut.

Membantu keterampilan berbahasa

Tentunya Anda sudah mengetahui bahwa pembelajaran sastra dapat membantu siswa untuk melatih keterampilan membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Keterampilan menyimak dapat dilatih dengan cara mendengarkan sebuah karya sastra yang dibacakan oleh guru atau teman siswa melalui rekaman. Keterampilan berbicara dapat terlatih dengan ikut serta dalam bermain drama. Keterampilan membaca dapat terlatih dengan kegiatan membaca puisi atau prosa cerita.

Sementara itu, keterampilan menulis dapat terlatih dengan kegiatan diskusi sastra yang kemudian hasilnya dapat dituliskan dalam bentuk esai ataupun yang lainnya.

Meningkatkan pengetahuan budaya

Sudah Anda pahami sebelumnya bahwa sastra dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai realitas kebudayaan yang terjadi. Pengetahuan di sini mengandung arti yang sangat luas.

Tentunya, Anda dapat meningkatkan pengetahuan melalui karya sastra dengan berbagai cara. Di dalam karya sastra terdapat banyak fakta yang harus kita gali kembali dengan berbagai sumber atau referensi yang lain untuk memahami problematika khusus yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra.

Sementara itu, budaya yang dimaksud adalah sebuah istilah yang merujuk pada ciri-ciri khusus suatu masyarakat tertentu dengan totalitasnya yang meliputi organisasi, lembaga, hukum, etos kerja, seni, drama, agama, dan sebagainya. Pemahaman terhadap budaya dapat menumbuhkan rasa bangga, rasa percaya diri, dan rasa ikut memiliki.

Dengan demikian, sastra sering berfungsi untuk menghapus kesenjangan pengetahuan dari sumber-sumber yang berbeda dan menggalangnya menjadi sebuah gambaran yang lebih berarti.

Mengembangkan cipta dan rasa

Anda sudah menyadari bahwa seorang individu memiliki sebuah kepribadian yang khas, kemampuan, masalah, dan kadar perkembangannya masing-masing. Sebuah kecakapan yang dimiliki tiap individu siswa harus selalu dikembangkan secara harmonis agar individu tersebut menyadari potensinya dan dapat mengabdikan diri bagi kepentingan generasinya.

Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecapakan yang bersifat indra (kepekaan indrawi alat-alat indra, misalnya kepekaan alat perasa), yang bersifat penalaran, yang bersifat afektif, dan yang bersifat sosial.

Menunjang pembentukan watak

Dalam hal pembentukan watak, pengajaran sastra hendaknya dapat memberikan bantuan dalam usaha mengembangkan berbagai kualitas kepribadian siswa, antara lain meliputi ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.

Semua hal tersebut dapat terbentuk karena pengajaran sastra dengan berbagai ciri khasnya memberikan kesempatan pada siswa untuk menelususri semacam arus pengalaman segar yang terus mengalir. Pengalaman itu merupakan persiapan yang baik bagi kehidupan siswa di masa yang akan datang.